Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan

Rabu, Januari 19, 2011

Hidup adalah Perjalanan

Tidak terasa satu setengah tahun telah berlalu, dan selama itupula blog ini seakan tidak terawat...., sungguh tersia-siakan. Begitulah hidup, kadang ada hal lain yang menuntut untuk lebih diperhatikan. Namun tidak berarti sesuatu yang dinomor-duakan menjadi tidak berarti. Kembali lagi kepada kita bagaimana menyikapinya, selalu saja ada sudut pandang lain dalam melihat suatu keadaan. Sekarang tergantung kepada kita bagaimana mau menjalani kehidupan ini. Kemana aku selama ini....? Ada banyak jawaban, tapi hanya ada satu alasan yang tepat. Terjebak dalam kemacetan perjalanan yang bernama Pekerjaan (yang tidak pernah ada habisnya). Seperti kebanyakan orang, yang tanpa disadari telah menghabiskan hampir seluruh hidupnya untuk pekerjaan yang tiada habisnya ini. Ada banyak alasan mengapa orang memilih perjalanan ini. Mulai dari keinginan untuk membahagiakan keluarga, memperoleh materi yang cukup, menjadi orang terpandang, kesenangan (hobby), sampai pada takut hidup menderita karena tidak memiliki uang. Apapun itu alasannya, waktu dan perhatian yang terkuras untuk perjalanan ini telah mengalahkan hal-hal lainnya. Sampai2x terkadang tidak ada lagi waktu dan perhatian untuk keluarga, bahkan untuk diri sendiri. Hidup menjadi identik dengan pekerjaan. Keluarga, sanak saudara dan teman, telah tergantikan oleh pekerjaan. Liburan dan harian terasa asing dalam agenda sepanjang tahun. Lalu.... Apa yang kita dapat dari perjalanan yang bernama pekerjaan ini? Adakah perjalanan ini menyenangkan? Adakah ia memberikan kebahagiaan? Adakah ia berjalan sesuai dengan yang kita bayangkan? Hanya anda yang telah tiba di akhir perjalanan yang bisa menjawab semua ini. Dan karena perjalanan ini begitu panjang, melelahkan dan menyita waktu kita, sehingga ketika kita tiba diujung sana kita sudah tidak memiliki waktu dan peluang untuk kembali lagi. Jadi.... renungkanlah dengan mendalam sebelum anda melanjutkan perjalanan ini lebih jauh lagi. Kita tidak pernah tahu bagaimana akhirnya. Jangan sampai kita menyesal setelah tiba diujung sana. HIDUP ADALAH PERJALANAN..... Ia bisa membawa kebahagiaan tapi juga bisa membawa penderitaan dan penyesalan. Semua tergantung kepada anda saat memilih dan menata jalan mana yang akan anda lalui. by Libs

Senin, Juli 06, 2009

Apakah Pilihan Hidupmu????

Orang sering mengatakan “Hidup adalah pilihan. Sebuah kalimat yang sederhana, pendek namun penuh dengan makna. (Begitulah kira2x menurut saya, gak tahu kalau orang lain). Setiap orang dihadapkan pada berbagai pilihan dalam menjalankan hidupnya; - Mau hidup sebagai siapa? Atau bahkan sebagai apa? - Mau hidup yang bagaimana? Atau yang seperti apa? - Mau hidup dengan melakukan apa? Atau melakukan apa untuk hidup? - Mau hidup bagi siapa? Atau hidup dengan siapa? Setiap orang punya alasannya sendiri untuk menentukan jalan hidupnya. Yang terpenting adalah bertanggung jawab atas pilihannya. (yah gak?). Sudahkah anda membuat pilihan hidup anda? Suatu ketika, saya melihat penggalan singkat realita kehidupan yang mengingatkan saya akan kalimat “Hidup adalah pilihan” ini. Realita kehidupan yang penuh dengan sandiwara dan dipentaskan di atas panggung kehidupan yang penuh dengan penderitaan, dimana harga diri diobral untuk membiayai pementasannya dan hanya menggunakan tiket kemuakan kita bisa menyaksikannya. Saat itu, di suatu malam selasa sekitar bulan agustus tahun 2008. Ketika itu kira-kira hampir jam 10 saya baru pulang sehabis latihan di kampus. Sungguh sebuah keberuntungan bagi saya, karena ban sepeda motor saya bocor sehingga saya bisa memperoleh pelajaran yang sangat berharga ini. Saya pun kemudian menuntun sepeda motor itu ke seorang penambal ban tua, tempatnya di tepi jalan raya sebelah utara pertigaan lampu merah dekat kampus. Pak No, begitu biasanya orang-orang memanggil si penambal ban tua itu. Saya mengenalnya sejak masih kuliah sekitar 10 tahun yang lalu. Saat itu pun ia telah menjadi seorang penambal ban dan pengecer bensin di bawah pohon ketapang itu, persis seperti malam itu. Masih di tempat yang sama, perlengkapan yang sama dan lingkungan yang sama. Bahkan penjual soto di selatan tempatPak No praktek pun masih ada. Yang berbeda hanya suasana malam itu, kini jalan raya itu lebih ramai. Meski hari telah larut, namun masih banyak kendaraan yang hilir mudik. Beberapa saat saya duduk di situ memperhatikan Pak No menambal ban sepeda motor saya sambil sesekali kami berbincang-bincang. Tiba-tiba, ia berkata, “Mas, coba kamu lihat perempuan yang berdiri di pojokan jalan sambil menggendong anak itu”. Saya kemudian menoleh ke arah pojokan jalan yang dimaksudnya. Ketika itu saya melihat seorang perempuan muda, pakaiannya lusuh, tampak kotor dan mengenakan sandal jepit. Sambil menggendong seorang anak ia berdiri disana seperti sedang menunggu seseorang. “Iyah, kenapa Pak?” saya balik bertanya. Perhatian kami masih tertuju kepada perempuan itu. Saat itu seorang lelaki mengendarai sepeda motor yang tampak cukup baru dan terawat menghampirinya. “Itu suaminya”, kata Pak No tiba-tiba menyeletuk. Perempuan itu pun kemudian pergi berboncengan dengan pria tersebut. “Perempuannya kayak pengemis yach? Padahal yang laki bawanya motor keren. Yah begitulah manusia hidup, segala cara dihalalkan untuk mencari nafkah” lanjut Pak No. “Kenapa begitu pak?” tanya saya penasaran. Apa maksud bapak ini dengan ucapannya barusan? “Perempuan itu kerjanya mengemis. Setiap pagi dia didrop oleh suaminya dan tiap malam dijemput lagi. Kerjanya dari pagi ampe malam cuma jalan dari ujung jalan sini ke ujung jalan sana untuk ngemis sambil bawa anaknya biar dikasihani. Dah hampir dua tahun ini dia di sini, waktu hamil pun dia tetap jalan. Jadi jalan ini sudah seperti kantornya dia. Datang jam 8 pagi, pulang jam 10 malam. Penghasilannya lumayan, ampe bisa beli motor segala.” jelas Pak No. Saya begitu tersentak mendengar penjelasan Pak No. Dalam hati saya berpikir, “Bahkan mengemis pun telah dijadikan mata pencaharian”. Sungguh menyedihkan pilihan hidup seperti ini. Dimana kemalasan telah membuat orang mengambil jalan pintas untuk mendapatkan materi duniawi. Dimana kemiskinan dijadikan pengesahan atas tindakannya untuk menlanjutkan hidup. Dimana anak telah dijadikan komoditi untuk mendapatkan belas kasihan. Sungguh sulit dimengerti, sulit dipahami. Itulah pilihan hidup. Keesokan harinya, pagi itu saya sedang mengantri untuk menabung di sebuah bank. Pagi itu antrian tidak begitu ramai, kira-kira saya di antrian ke-12. Setelah beberapa saat mengantri, tepat enam antrian di belakang saya ada seorang gadis cantik yang ikut mengantri. Karena antrian dibentuk berkelok-kelok jadi dia berdiri persis di sebelah saya. Gadis itu begitu seksi, modis, berambut lurus pirang, berkulit putih, harum dan wajahnya rupawan. Setiap orang yang melihatnya pasti akan terpesona, yakin dech!( tapi jangan mikir yang macam-macam loh….!). Di sebelahnya berdiri seorang gadis lainnya yang lebih supel, sepertinya temannya. Kedua gadis ini terlibat dalam perbincangan tentang seseorang, sepertinya tentang seorang laki-laki, mungkin pacarnya. (gak nguping loch, karena dia berdiri di samping jadi kedengaran dong.) Sepertinya si gadis pirang itu sedang marah pada cowoknya. Dalam perbincangan itu ia mengatakan bahwa cowoknya itu gak sensitif dan pelit. Ia sebel karena tidak diberi kado oleh cowoknya pada saat hari ulang tahunnya beberapa hari yang lalu. “Masa sich gak dibelikan kado ama cowok loe?” tanya gadis di sebelahnya. “Iyach, padahal kita sempat jalan-jalan ke mall lihat-lihat kalung. Gua dah bilang suka kalung itu. Tak pikir ntar pas ultah pasti dibelikan, eh…….. ga tahunya beneran malah gak dibelikan.” jelas gadis pirang itu. Kemudian ia menambahkan, “Memang sich ini salah gua juga”. “Loh kog bisa?” tanya temannya kebingungan. “Dia (si cowok) kan tanya, mau kalung atau mau mentahnya aja? Gua jawab yah terserah aja, tapi dibedakan ama yang (uang) bulanan. Terus dia jawab, “yach gak apa-apa”. “Tapi jangan semuanya dibelanjakan, ntar sebagian ditabung yach, gitu katanya.” “Terus pas ultah loe diberi (uang) berapa?” tanya temannya penasaran. “Pas ultah itu, tak kira beneran mau ditransfer lebih, gak tahunya Cuma 1jt, itukan sama aja dengan (uang) bulanan aku. Padahal (uang) bulanan aja dia dah beri segitu, masa buat ultah juga segitu. Udah gitu masih disuruh nabung lagi. Mana cukup……” jawab si gadis pirang itu. Setelah itu , saya tidak tahu lagi kelanjutannya. Karena setelah itu giliran saya untuk ke teller telah tiba. Dalam hati saya berpikir, “bahkan ada orang yang menggunakan cara ini untuk memuaskan nafsu materinya. Begitu pula, sungguh menyedihkan pilihan hidup seperti ini. Dimana harga diri ditukar dengan materi duniawi yang tak kekal. Dimana hati nurani telah menjadi bisu karena virus keserakahan. Dimana kecantikan telah menjadi pembungkus jiwa yang busuk penuh dengan kelicikan. Sekali lagi sulit dimengerti, sungguh sulit dipahami. Lalu apa bedanya seorang perempuan kumal yang berprofesi sebagai pengemis dan seorang gadis pirang yang tampak berpendidikan tersebut? Apakah sebegitu rentanya mental dan jiwa manusia saat ini? sehingga hanya itu jalan yang bisa diambil untuk melanjutkan hidup ini? Saya yakin TIDAK. Tentu tidak hanya itu jalan yang ada, tapi itulah pilihan hidup. Setiap orang punya pilihannya sendiri. Sekali lagi, yang penting tanggung jawabnya. Siapa yang menabur, ia yang akan menuai. Pertanyaannya, Lalu bagaimana dengan anda? Pilihan hidup mana yang akan anda pilih?

Rabu, Juli 23, 2008

Sebuah Perjalanan

HIDUP ADALAH SUATU PEMBELAJARAN. Disadari atau tidak semua orang belajar sejak ia dilahirkan hingga ia tutup usia. Ketika seseorang masih hidup ia akan terus belajar. Blog ini dibuat untuk suatu pembelajaran bagi siapapun yang menjelajahinya.

MEREKA YANG MEMILIKI TUJUAN HIDUP MEMELIHARA SEMANGAT. Bangunlah tujuan bidup(DREAM)anda mulai dari sekarang dan berpeganglah padanya ketika anda sedang "jatuh". Mereka yang kehilangan semangat, sama dengan kehilangan hidup. Blog ini dibuat untuk membagikan motivasi dan inspirasi bagi siapa saja yang menjelajahinya, sehingga tetap menjaga semangatnya untuk meraih tujuan hidup.

KEKURANGAN INFORMASI MENYEBABKAN KELUMPUHAN PARADIGMA. Mereka yang menerima hanya sebagian informasi atau bahkan tidak sama sekali akan mengalami kelumpuhan paradigma. Ibarat macan yang lupa caranya mengaum. Blog ini dibuat untuk membagikan informasi kepada penjelajahnya yang bersedia menerima informasi seluas-luasnya demi menghindari kelumpuhan paradigma.

Renungkanlah!!!